Awas, Kualitas Makanan China Terkontaminasi Pestisida

AKHIRNYA ekspor makanan China kesandung juga di pasar dunia,padahal jauh sebelumnya ekspor makanan maupun buah-buahan asal tirai bambu sempat bikin ‘gagap’ pasar Eropa-Amerika.

Matamatanews.com-JAKARTA—Pemberitaan sejumlah anjing dan kucing di Amerika banyak yang mati lantaran gagal ginjal tampaknya berdampak bagi perekonomian China,teruma makanan dan buah-buahan. Setelah ditelusuri, ternyata kematian itu disebabkan terlalu banyak mengkonsumsi makanan impor asal China yang mengandung gluten bercampur melamin yang dituding sebagai penyebabnya. Meski sejauh ini manusia belum diyakini bisa terimbas, namun insiden kematian para binatang itu membuat sejumlah orang ketar-ketir terhadap produk makanan China. Buncis, buah plum dan udang salah satu ekspor yang di kini banyak diwaspadai para konsumen di Amerika Serikat, karena dianggap telah terkontaminasi salmonela.

Beberapa tahun belakangan ini ekspor daging dan makanan olahan asal China memang meningkat tajam frekuensinyadi pasar dunia, terutama Amerika Serikat. Tapi peningkatan itu ternyata tak diimbangi dengan kualitas yang maksimal, hingga konsumen dirugikan. Akibatnya, kini banyak konsumen beralih ke produk makanan lain, meski harus rela merogoh kocek sedikit tinggi, yang penting mutu dan kesehatan mereka terjamin. Di China sendiri soal pencemaran makanan bukan hal baru, mereka sadar bahwa produk yang dilepas kepasaran tidak menjamin seratus persen ke higinitasannya. Tak heran bila banyak negara yang komplain terhadap ekspor makanan atau buahan yang di datangkan dari China.Pelabuhan Amerika sendiri bahkan
pernah menolak tegas ekspor makanan dari China, diantara nya yaitu tadi buncis, buah plum, udang dan daging olahan.

Dengan ditolaknya beberapa ekspor makanan dan buahan asal China di sejumlah negara, membuat pemerintah China sendiri semakin ketat dalam mengawasi produk lokalnya. Memang dalam beberapa tahun terakhir, China semakin ketat melakukan pemeriksaan terhadap semua produknya, selain untuk menutupi rasa malu juga tak ingin kehilangan pasar makanan yang sudah sedemikian besar itu, terlebih pasar Amerika dan Eropa. Persoalan yang dihadapi pemerintah China memang cukup pelik, sebab pestisida dan pupuk kimia mudah di dapat,lantaran tidak termasuk barang yang dilarang, bahkan hampir semua petani memgunakannya untuk meningkatkan meningkatkan hasil panen.

Adapun antibiotik berbahaya sudah umum dipergunakanbanyak kalangan industri untuk mengendalikan penyakit pada bahan baku makanan. Belum lagi polusi yang dihasilkan para industri itu memungkinkan kandungan logam masuk dalam rantai makanan! Tak pelak Direktur Pusat Studi Makanan Dunia di Vrije Univerteit, Amsterdam, Belanda, Michiel Keyzer semakin miris dengan persoalan satu itu. Ia prihatin dengan ekspor makanan, buah atau daging olahan yang terkontaminasi, dengan demikian bisnis tersebut mengalami ganjalan dan kerugian besar sana-sini.

Jalan satu-satunya untuk mengembalikan kepercayaan konsumen tak lain memperbaiki kekurangan,dan meningkatkan kualitasnya sedini mungkin jika tak ingin kehilangan pasarnya di pentas ekonomi global. Derasnya penolakan ekspor China belakangan ini tak pelak membuat sejumlah kalangan di AS kian selektif memilih makanan olahan maupun buah impor. Karena dari beberapa penyelidikan menyebutkan hanya 6 persen produk pertanian China yang dinyatakan bebas polusi, sedangkan yang berkualitas dan aman untuk dikonsumsi cuma sekitar 1 persen saja, selebihnya “remang-remang” alias bersiko tinggi.

Dalam kurun 2005 silam saja pemerintah China melaporkan, hampir 34.000 kasus penyakit, yang berkaitan dengan konsumsi makanan. Biang keladinya cuma satu yaitu makanan yang tercemar dan pengolahan yang asal jadi. Meski begitu, China tetap optimis bahwa ekspornya akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan banyak orang, khususnya dinegara maju macam Amerika. Jika negara macam Amerika saja bisa kecolongan dengan produk yang tercemar, bagaimana dengan Indonesia yang mayoritas konsumennya lebih mengedepankan murah ketimbang kualitas?

Inilah pekerjaan rumah para pakar industri untuk lebih mawas diri dan hati-hati terhadap produkproduk asal negeri tirai bambu, yang kini menjadi sorotan dunia lantaran tercemar hingga tak layak untuk dikonsumsi.Beranikah Indonesia menolak ekspor China yang kini banyak diyakini terkontaminasi, seperti yang pernah dilakukan Amerika, atau sebaliknya menunggu jatuh korban lebih dulu baru bertindak? Terlalu ! (SM.Akbar)

 

sam

No comment

Leave a Response