Awas, ISIS Miliki Dana Selundupan US$ 400 Juta dan 18.000 Militan

 

Matamatanews.com, WASHINGTON—Meski keberadaan kelompok militan ISIS (Islamic  State) dan kekuatannya dikabarkan telah terjungkal di Timur Tengah,terutama di Irak dan sekitarnya, namun sebuah sumber intelijen di Amerika Serikat menyebutkan bahwa lima bulan setelah tersingkir d ari  Timur Tengah mereka mencoba merekrut anggota baru di kamp-kamp yang dikelola sekutu.

Sel-sel tertidur telah melakukan serangan penembak jitu, penculikan, dan pembunuhan terhadap pasukan keamanan dan para pemimpin politik lainnya dalam beberapa bulan terakhir. 

Kelompok teror itu memiliki sekitar 18.000 militan dan telah menyelundupkan dana perang senilai USD400 juta (setara Rp5,7 triliun) ke sejumlah negara tetangga guna membantu membiayai perang religius fanatiknya melawan Barat, demikian dugaan spionase.
 
ISIS pernah memproklamirkan kekhalifahan Islam brutal yang mengendalikan nasib lebih dari 12 juta orang di seluruh Suriah dan Irak. Tetapi wilayahnya susut menyusul serangkaian kekalahan militer dari pasukan Irak didukung AS.
 
Sekitar 70.000 orang masih berada di kamp-kamp pengungsi Suriah yang dipenuhi anggota keluarga militan ISIS dan timbul kekhawatiran bahwa kamp-kamp itu dapat menimbulkan risiko keamanan di masa depan.
 
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengakui bahwa militan ISIS mendapatkan kekuatan di beberapa daerah, tetapi mengatakan kapasitas kelompok itu untuk melakukan serangan telah sangat berkurang.
 
"Ini rumit. Pasti ada tempat-tempat di mana ISIS lebih kuat hari ini daripada tiga atau empat tahun lalu," kata Pompeo dalam sebuah wawancara dengan CBS This Morning, yang dikutip Mirror, Rabu, 21 Agustus 2019.
 
Namun dia katakan kekhalifahan yang diproklamirkan kelompok itu lenyap dan kemampuan serangannya menjadi jauh lebih sulit. Pompeo ditanya tentang laporan New York Times bahwa kelompok militan ISIS memperoleh kekuatan baru di Irak dan Suriah.
 
Presiden Donald Trump mengatakan pada Desember bahwa pasukan AS berhasil dalam misi mereka untuk mengalahkan ISIS di Suriah dan tidak lagi diperlukan di negara itu. "Kita menang," katanya saat itu.
 
Pompeo mengatakan rencana untuk mengalahkan ISIS di wilayah itu dilaksanakan dengan 80 negara lain dan sangat sukses. Namun, dia mengingatkan bahwa selalu ada risiko bahwa akan terjadi kebangkitan kelompok teroris radikal, termasuk Al Qaeda dan ISIS.
 
Di Jenewa, seorang pejabat senior Tiongkok pada Selasa memperingatkan bahwa ada bahaya militan ISIS muncul kembali di Suriah dan menyerukan kemajuan dalam proses politik antara pemerintah Damaskus dan oposisi buat mengakhiri perang.
 
Tiongkok sejak lama mengkhawatirkan etnis Uighur dari wilayah Xinjiang, Tiongkok barat jauh yang telah melakukan perjalanan sembunyi-sembunyi ke Suriah dan Irak untuk bertempur membela kelompok-kelompok Islam di sana.
 
ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bunuh diri pernikahan yang menewaskan 63 orang dan melukai 182 pada Sabtu di ibu kota Afghanistan, Kabul.
 
ISIS, dalam sebuah pernyataan di situs web pengiriman pesan Telegram, mengklaim bertanggung jawab dengan mengatakan pengebomnya mampu menyusup ke resepsi dan meledakkan bahan peledaknya di tengah kerumunan ‘orang kafir’.
 
Serangan itu terjadi ketika Taliban dan AS sedang berupaya menegosiasikan kesepakatan mengenai penarikan pasukan AS sebagai imbalan atas komitmen Taliban pada pembicaraan keamanan dan perdamaian dengan pemerintah Afghanistan yang didukung AS.*(s/mc)

redaksi

No comment

Leave a Response