Analisis Skenario Pandemi Covid-19 dan Vaksinasi di Indonesia

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Virus SARS-CoV-2 adalah virus penyebab Covid-19. Salah satu strategi mengendalikan pandemi adalah vaksinasi. Kecepatan pengembangan vaksin memberikan harapan untuk keluar dari pandemi Covid-19. Strategi pengendalian pandemi terutama pada sektor hulu, yakni pencegahan, penemuan kasus secara dini, dan pemeriksaan yang masif. Ini diperkuat dengan isolasi dan karantina yang memadai. 

"Masa pandemi Covid-19 tak hanya menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi, tetapi juga merupakan momen yang tepat bagi semua orang untuk dapat berperilaku hidup sehat," ungkap Koordinator Sistem Ir.Alief Einstein,M.Hum kepada Matamatanews.com.

1. Target Vaksin

Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo,M.PH. memaparkan bahwa kick off pelaksanaan vaksin di Indonesia dimulai tanggal 13 Januari 2021, ditandai dengan vaksinasi pertama kali kepada Presiden Jokowi diikuti oleh pejabat negara lainnya. Target vaksin 181,5 juta orang atau sekitar 70% penduduk Indonesia dalam waktu maksimal 15 bulan. 

Per tanggal 19 Februari 2021 sebanyak 1.191.031 orang telah mendapat vaksin dosis pertama dan 668.914 orang mendapat vaksin dosis kedua dengan total yang telah mendapat vaksin sebanyak 1,79 juta orang. Rata-rata harian jumlah suntikan dalam satu minggu terakhir untuk dosis pertama 21.754 orang dan dosis kedua 41.196 orang. 

Sementara negara India memulai vaksinasi pada tanggal 18 Januari 2021 dan per tanggal 18 Februari 2021 jumlah orang yang divaksin sekitar 383.285 orang dengan total yang telah mendapatkan vaksin 10,19 juta orang. Data ini dapat diakses melalui laman: https://kawalcovid19.id/ dan https://ourworldindata.org/.  

2. Vaksinasi

Vaksinasi menurut dr.Yudhi adalah salah satu upaya pencegahan spesifik selain penggunaan masker standart. Vaksin ini diharapkan dapat mempercepat tercapainya kekebalan kelompok atau herd immunity sehingga secara tidak langsung dapat memberikan perlindungan kepada kelompok rentan dengan catatan sekitar 70% penduduk telah divaksinasi. 

Berdasarkan data, maka Indonesia perlu melakukan akselerasi proses vaksinasi agar segera tercapai herd immunity. Bagaimana scenario pandemi Covid-19 di Indonesia dengan adanya upaya pencegahan spesifik vaksin tersebut? Hal ini sering kali ditanyakan oleh masyarakat yaitu kapan pandemi terkendali atau mereda.

3. Analisis Skenario Covid-19 di Indonesia

Ahli Epidemiologi Lapangan (Field Epidemiology) Fakultas Kedokteran Unsoed ini menjelaskan bahwa MRC Centre for Global Infectious Disease Analysis, Imperial College London melakukan sebuah penelitian yang dibiayai oleh The Wellcome Trust dan pemerintah UK. Penelitian ini adalah membuat analisis scenario Covid-19 di berbagai negara untuk mudah memproyeksikan pandemi Covid-19 di berbagai negara termasuk Indonesia. 

"Aplikasi ini sangat mudah digunakan untuk membuat proyeksi prevalensi kasus infeksi, jumlah orang yang memerlukan rawat inap dan perawatan kritis di RS, proyeksi puncak pandemi, dan proyeksi total kematian. Aplikasi ini juga dikalibrasi ulang setiap hari menyesuaikan dengan jumlah kasus kematian yang dilaporkan setiap harinya oleh setiap negara. Aplikasi ini dapat diakses melalui laman: https://covidsim.org/.,'" terang dr.Yudhi.

a. Penurunan (Kasus dan Kematian)

Berdasarkan analisis scenario dari Imperial College London, dr.Yudhi Wibowo mengatakan bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia mengalami tren penurunan baik kasus dan kematian sampai titik terendah sekitar pertengahan Agustus 2021. Demikian juga dengan angka reproduksi efektif (Rt) dapat dipertahankan sekitar 0,8 sampai dengan akhir Agustus 2021. 

Analisis ini sudah mempertimbangkan proses vaksinasi yang sedang berjalan di Indonesia dan terlihat bahwa vaksinasi sebagai upaya pencegahan spesifik mampu mengendalikan pandemi Covid-19 dengan catatan bahwa vaksin memiliki efikasi 90% dan cakupan sebesar 80% penduduk. 

b. Efektifitas Vaksin

dr.Yudhi mengatakan, hal yang sangat penting untuk diketahui bersama bahwa efektifitas vaksin ini belum dilakukan penelitian terutama terkait berapa lama vaksin ini mampu memberikan perlindungan kepada individu yang telah mendapat vaksin tersebut. Beberapa menginformasikan bahwa vaksin mampu memberikan kekebalan selama 5-6 bulan paska vaksinasi. Hal ini juga dapat dilihat dari hasil analisis scenario bahwa akhir Agustus 2021 terjadi peningkatan kembali baik kasus dan kematian serta Rt.

c. Modalitas Pencegahan Lainnya - 5M

Jika hasil penelitian terkait efektifitas vaksin telah diketahui dan jika memang benar kekebalan hanya bertahan 5-6 bulan maka akan diperlukan booster vaksinasi dan tentunya akan membutuhkan biaya yang sangat besar. 

"Sangat diperlukan modalitas pencegahan lainnya yaitu apa yang selama ini dikenal sebagai 5M; memakai masker standart, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menjaga jarak min 1,8 meter, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas," terangnya. 

Tim Ahli Satgas Covid-19 PemKab. Banyumas ini menyimpulkan bahwa vaksin hanya merupakan salah satu bentuk pencegahan spesifik. Oleh karena itu kata Yudhi sangat diperlukan modalitas pencegahan lainnya, seperti model pencegahan Swiss Cheese Model. 

"Proyeksi pandemi Covid-19 di Indonesia akan menurun selama kekebalan paska vaksin terbentuk (diperlukan akselerasi proses vaksinasi), namun akan kembali meningkat jika kekebalan tersebut kembali menurun. Diperlukan penelitian efektifitas vaksin di masyarakat untuk mengetahui berapa lama vaksin mampu memberikan perlindungan atau kekebalan," pungkasnya. (Hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response