Analisis Penentuan Awal Bulan Dzulhijjah 2024, Sepakat 10 Dzulhijjah Jatuh 17 Juni

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Dosen ahli Penginderaan Jauh dari Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Jamrud Aminuddin,,SSi.,MSi.,Ph.D. memberikan informasi ilmiah tentang Penentuan Awal Bulan Dzulhijjah pada Tahun 2024 ini.

Dijelaskan  bahwa Ibadah Haji adalah salah satu pilar utama dalam agama Islam yang mampu secara fisik, finansial, dan mental setidaknya sekali seumur hidup. 

"Ibadah Haji memiliki makna yang dalam dalam kehidupan seorang muslim, tidak hanya sebagai kewajiban agama, tetapi juga sebagai pengalaman spiritual yang mendalam, "kata Jamrud,PhD. dipandu Ir.Alief Einstein, M.Hum. dari kafapet-unsoed.com.

Dikatakan, puncak ibadah Haji adalah wukuf di Padang Arafah, di mana jamaah menghabiskan waktu sehari penuh berdo'a, bertobat, dan memohon ampunan kepada Allah. 

"Wukuf di Arafah menjadi simbol kesatuan umat Islam di hadapan Allah, di mana semua jamaah berdiri tanpa perbedaan, merangkul kebersamaan, dan ketaatan," jelasnya.

Tanggal puncak pelaksanaan ibadah Haji kata Jamrud adalah pada hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah. 

"Pelaksanaan Idul Adha di Indonesia berdasarkan hari wukuf di Arafah. Idul Adha jatuh pada hari ke-10 Dzulhijjah, yang merupakan sehari setelah wukuf di Arafah dalam ibadah Haji," ujar dosen Unsoed yang sudah 48 kali hadiri Seminar Nasional dan Internasional. 

Penentuan hari raya di Indonesia menurut dosen Fisika Komputasi dan Fisika Kuantum dari FMIPA Unsoed ini bahwa berdasarkan kesepakatan tanggal 1 Zulhijjah 1445 H diperkirakan jatuh pada tanggal 7 Juni 2024. 

Jamrud telah membuat sebuah disclaimer bahwa penjelasannya bukan rujukan utama, tetapi hanya sebuah kajian ilmiah. Keputusan ada di tangan pihak yang punya otoritas, Pemerintah Republik Indonesia. 

Hasil perhitungan berdasarkan perangkat lunak pengolah data astronomi yang dikembangkan oleh Islamic Astronomical Center (IAC) yakni 2 jam lebih setelah Maghrib tanggal 6 Juni 2024, konjungsi (ijtima’) terjadi pada pukul 19:38 WIB. Dimana posisi matahari bumi dan bulan berada pada satu garis lurus. 

Pada titik referensi Gedung C Fakultas MIPA Unsoed Purwokerto, Jawa Tengah, dengan letak astronomi 109:15:15,0 BT dan  07:24:37,6 LS, matahari berada di bawah ufuk pada Pukul 17.48 WIB dengan posisi azimuth +292°:23':29" (ufuk barat) dan altitude -04°:16':47" (di bawah ufuk). 

Pada saat itu hilal berada pada posisi azimuth +296°:33':47" (ufuk barat) dan altitude -06°:09':35" (di bawah ufuk). Sudut elongasi (jarak lengkung antara matahari dan bulan) adalah +04°:33':36". Kondisi ini dianggap hilal belum wujud karena ijtima’ terjadi setelah matahari terbenam di hari yang dijadikan sebagai referensi. Secara astronomis, bulan dapat dinyatakan berumur -1 Jam 50 Menit.

Menurut Jamrud,PhD. bahwa pada hari berikutnya yaitu Jum'at tanggal 7 Juni 2024, dengan mengambil titik referensi yang sama, hasil perhitungan bahwa matahari berada di bawah ufuk pada Pukul 17.48 WIB dengan posisi azimuth +292°:29':14" (ufuk barat) dan altitude -04°:16':46" (di bawah ufuk). 

Pada saat itu hilal berada pada posisi azimuth +299°:42':10" (ufuk barat) dan altitude +06°:12':37" (di bawah ufuk). Sudut elongasi adalah +12°:43':32". Saat itu umur bulan sudah 22 Jam 10 Menit. 

Berdasarkan hasil analisis ini, maka dapat dikatakan bahwa Hari Jumat malam selepas magrib, Tanggal 7 Juni 2024 sudah masuk Tanggal 1 Dzulhijjah 1445 H jika menggunakan kesepakatan MABIMS (Menteri Agama Brunei Indonesia Malaysia Singapura). 

Kesepakatan MABIMS terbaru tentang kriteria terlihatnya hilal adalah altitude bulan baru minimal 3 derajat, dengan sudut elongasi 6,4 derajat, sedangkan kriteria umur bulan sudah ditiadakan berdasarkan RJ (Rekomendasi Jakarta) 2017. Kondisi tersebut juga terkonfirmasi dengan perkiraan terlihatnya hilal di beberapa titik di Indonesia pada hari Jumat, Tanggal 7 Juni 2024. 

"Pada hari itu diperkirakan hilal bisa diamati dengan bantuan teleskop di seluruh wilayah Indonesia.  Khusus pada bagian utara Pulau Sumatera sangat mudah diamati tanpa bantuan teleskop. Pada Gambar diperlihatkan hasil analisis peluang terlihatnya hilal pada hari Jumat, 7 Juni 2024 mulai saat mata hari terbenam pada pukul 17.48 WIB," jelas Dosen Fisika Statistik dan Fisika Atmosfer dari FMIPA Unsoed ini.

 Sebenarnya, analisis yang telah dipaparkan tersebut akan dikonfirmasi melalui pengamatan hilal dari titik yang sama yaitu oleh Kelompok Mahasiswa yang didampingi beberapa dosen dari Jurusan Fisika FMIPA Unsoed Purwokerto.  Mereka berencana melakukan pengamatan hilal di rooftop Gedung C FMIPA Unsoed, tetapi gagal karena kondisi cuaca berawan, sehingga  tidak memungkinkan melaksanakan pemantauan hilal saat itu.

Alumni S3 Remote Sensing dari Chiba University, Jepang ini menambahkan bahwa dari hasil analisis tersebut mensyaratkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1445 H jatuh pada hari Sabtu 8 Juni 2024 M. Dengan menambahkan 9 dan 10 hari kedepan, maka Wukuf di Arafah 9 Dzulhijjah 1445 H pada hari Minggu/Ahad 16 Juni 2024 M dan Idul Adha 10 Dzulhijjah 1445 H pada hari Senin 17 Juni 2024.  

Hasil analisis tersebut juga mensyaratkan bahwa Lebaran Idul Adha di Indonesia akan serentak dilaksanakan pada hari Senin 17 Juni 2024 baik oleh pengamal Hisab maupun pengamal Rukyah. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response