Akibat Laporan Palsu CIA Irak Luluhlantak

 

Matamatanews.com-JAKARTA—Hingga kini Irak masih terkatung-katung nasib dan masa depannya,meski  Saddam Hussein telah digulingkan dan demokrasi telah dipancangkan oleh Amerika Serikat dan konco-konconya. Tapi sengkarut dan pertikaian antar faksi  serta  ledakan bom mobil masih kerap terjadi. Irak kini menjadi salah satu negara yang memprihatikan di kawasan Timur Tengah,baik ekonomi maupun keamanannya.

Irak pada tahun 2003 menjadi tahun paling kelam bagi rakyatnya karena terlalu sering mengalami perang perang berkepanjangan. Rakyat harus merasakan kerasnya dentuman bom yang dijatuhkan tentara Amerika Serikat ke rumah-rumah mereka. Merelakan anak-anak bayi mereka meregang nyawa akibat siraman peluru dan pecahan granat, bahkan sampai sekarang,rakyat Irak masih tertatih memungt serpihan-serpihan harapan yang terserak di kota-kota mati.

CIA Sembunyikan Fakta

Untuk melakukan penyerbuan ke Irak,Amerika butuh alasan kuat yang bisa diterima akal. Dan seperti biasa, tangan Amerika Serikat yang bertugas melakukan propaganda di negara lain ialah CIA (Central Intellegence Agency). Rumornya, ada sejumlah senjata pemusna massal di Irak (nuklir). Secara rahasia, gerakan pun dimulai. Uniknya, menjelang serbuan Amerika pada 2003, mereka hanya memiliki satu orang mata-mata yang menyamar sebagai diplomat di sebuah kedutaan besar negara lain.Hanya satu, sumber informasi yang diandalkan sebagai pendukung ialah hubungan mereka dengan Irak National Accord (INA),kelompok oposisi Saddam Hussein yang justru sedang berada di  pengasingan.

Alhasil, bocoran informasi yang mereka berikan telah kadaluarsa selama 4 tahun. Belum lagi sikap pimpinan INA yang memang ‘mencari muka’ kepada Amerika Serikat agar dapat berkuasa di Irak dengan cara menjatuhkan Saddam Hussein (terbukti ia menjadi Perdana Menteri Irak pada masa transisi pasca jatuhnya Saddam Hussein). CIA mulai kehabisan untuk mengumpulkan informasi yang  bisa menguatkan dugaan bahwa Saddam sedang merancang program senjata pemusna massal.

Pengakuan ini perlu bagi Amerika Serikat untuk lebih meyakinkan sekutunya. Cara lain pun ditempuh, yaitu CIA memanfaatkan para keluarga ilmuwan Irak untuk mengorek informasi dari para ilmuwan jenius irak yang diduga terlibat dalam proyek  berbahaya Saddam Hussein. Hal ini dilakukan karena  para ilmuwan Irak yang pernah diwawancarai secara oleh oleh komisi pengawas persenjataan dari PBB mengatakan ,bahwa kecurigaan Amerika Serikat  tidak berdasar.

Sebab, Irak telah lama menghentikan program nuklir (sejak genjatan senjata dengan Iran). Hal ini diakui tiga puluh orang keluarga ilmuwan Irak yang menjadi mata-mata. Mereka melaporkan kepada CIA bahwa program pengembangan senjata biologo,kimia, dan nuklir Irak telah lama dihentikan. Celaka dan gilanya, dengan alasan yang tidak jelas CIA memilih tidak meneruskan laporan dari mata-mata itu ke presiden.Akibatnya, Presiden Bush dn sekocinya di Gedung Puih tidak mendapatkan laporan akurat tentang kondisi yang sebenarnya.

Pengakuan Yang Terlambat

Kepala CIA yang bertugas memburu senjata pemusnah massal Irak,David Kay menyatakan keluar dari CIA pada tahun 2004. Secara terbuka ia mengakui bahwa sama sekali tidak ada senjata pemusna massal di Irak. Lalu pada tahun 2005,George Tenet, bos besar CIA pun mengakui bahwa mereka telah membuat kesalahan besar yang menjadi pukulan telak bagi Amerika Serikat. Tetapi, apa daya ratusan nyawa telah menguap bersama asap mesiu dari mesin-mesin perang serta siram peluru tentara Amerika Serikat dan konco-konconnya.Ratusan perempuan telah menjadi janda karena para suami mereka telah direnggut paksa dari rumah mereka yang bersahaja.Ribuan anak terpaksa menjadi yatim piatu.Bukan rakyat Irak saja, tetapi ribuan pasukan Amerika Serikat dan sekutu pun tewas mengenaskan dalam pertempuran hanya demi alasan yang salah kaprah. (icam/berbagai sumber/konspirasi dunia files)

 

 

 

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response