Akhirnya Amnesti Internasional Sebar Foto Pembakaran desa di Rohingya

 

Matamatanews.com, LONDON—Kelompok hak asasi manusia, Amnesti Internasional, merilis gambar-gambar satelit yang menunjukkan sebuah “kampanye yang diatur” untuk membakar desa-desa Rohingya di Myanmar sebelah barat. Amnesti menyebut gambar-gambar itu menjadi bukti bahwa pasukan keamanan Myanmar berusaha mendesak kelompok minoritas Muslim keluar dari negara itu.

Tentara Myanmar membantah menargetkan warga sipil dalam serangannya, sebaliknya menyatakan pertempuran itu untuk melawan milisi. Sekitar 389.000 warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan militer Myanmar sejak bulan lalu. Pemerintah menyatakan setidaknya 30 persen desa-desa di Rakhine State saat ini dalam keadaan kosong.

Amnesti menyatakan terdapat bukti baru berdasarkan data deteksi api, citra satelit, foto-foto, dan video, serta wawancara dengan para saksi mata bahwa adanya sebuah kampanye pembakaran sistematis yang telah diatur untuk menargetkan desa-desa Rohingya selama tiga pekan.

“Buktinya tidak terbantahkan, pasukan keamanan Myanmar menempatkan wilayah utara Rakhine State terbakar sebagai sebuah target kampanye untuk mendorong warga Rohingya keluar dari Myanmar. Tidak ada kesalahan, ini adalah pembersihan etnis,” tandas direktur tanggap darurat dari Amnesti Internasional, Tirana Hassan, seperti kutip dari BBC, Jumat (15/9).

Amnesti menyatakan pasukan keamanan akan mengelilingi sebuah desa, menembak orang saat mereka melarikan diri, serta membakar rumah-rumah mereka. Tindakan itu jelas sebagai bentuk kejahatan melawan kemanusiaan.

Amnesti telah mendeteksi setidaknya 80 kebakaran besar di daerah-daerah berpenghuni, menyusul serangan ke pos-pos polisi oleh pemberontak Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Amnesti menyebut tidak pernah terjadi kebakaran sebesar ini dalam periode sama sepanjang empat tahun terakhir. Kelompok HAM tersebut juga menerima laporan-laporan kredibel mengenai aksi pembakaran rumah-rumah milik etnis Buddha di Rakhine oleh milisi Rohingya, namun tidak bisa memverikasi hal itu.

Pada Kamis (14/9), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson mengatakan demokrasi Myanmar menghadapi momen yang menentukan. “Saya pikir penting masyarakat global untuk berbicara mendukung apa yang kita semua tahu harapannya adalah perlakuan orang-orang terlepas dari apa pun etnis mereka,” kata Tillerson di London. “Kekerasan ini harus dihentikan, penganiayaan harus dihentikan,” ujarnya.[bar/SP/BBC/C-5]

 

sam

No comment

Leave a Response