Akhir Tahun 2019 Unsoed Tanam Padi Gogo Di Sela Kelapa Sawit

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum. menjelaskan bahwa pada akhir tahun 2019 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto akan menanam padi gogo di sela kelapa sawit. Berikut tahapan-tahapan yang akan digelar Unsoed sebelum penanaman padi di sela kelapa sawit oleh Petani Pelalawan Riau.

Menurut Tim Tenaga Ahli Unsoed Dyah Susanti, SP, MP. bahwa rencana tahap awal yang akan ditanam di sela kelapa sawit seluas 780 hektar yakni intercropping dengan tanaman padi gogo aromatik Unsoed, kacang hijau, dan beberapa tanaman hortikultura yang sesuai dengan kondisi tanah dan lingkungan setempat serta memiliki pasar yang prospektif.

Dyah yang juga Dosen Fakultas Pertanian Unsoed memaparkan tahapan-tahapan yang digelar Unsoed sebelum penanaman padi di sela kelapa sawit, di antaranya sebagai berikut :

1. Studi Kesesuaian

Terlebih dahulu diadakan studi kesesuaian lingkungan baik dari aspek syarat tumbuh maupun aspek sosial dan ekonomi. Survei awal dilaksanakan pada bulan Januari 2019, dan survei lanjutan pada bulan Oktober 2019 sebagai langkah persiapan lahan percontohan. Persiapan dilaksanakan satu bulan sebelum penanaman.

2. Workshop Peremajaan Sawit Rakyat

Prof. Ir. Totok Agung,DH.,MP.,Ph.D. bersama anggota tim Agus Riyanto,SP.,M.Si. dan Dyah Susanti,SP., MP. melaksanakan transfer teknologi dalam acara Workshop.

Workshop Peremajaan Sawit Rakyat Pola Tumpang Sari Kebun Plasma PT. SBP KUD Bratajaya Desa Surya Indah diselenggarakan pada hari Rabu, 04 Desember 2019 di GOR Desa Surya Indah, Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Pada workshop ini Prof. Ir. Totok Agung,DH.,MP.,PhD. selaku narasumber yang memberikan materi dengan judul Pertanian Terintegrasi, Strategi Meningkatkan Produktivitas Lahan Perkebunan Kelapa Sawit.

3. Tanam Perdana Padi Gogo Unsoed

Tanam perdana Padi Gogo Unsoed di sela kelapa sawit dilaksanakan pada tanggal 05 Desember 2019.

Saat tanam perdana Prof.Ir.Totok Agum,DH.MP.PhD. selaku ketua tim memaparkan bahwa pertama, perpaduan padi gogo di sela kelapa sawit akan mengubah replanting dari musibah menjadi berkah. Kedua, mempercepat kembalinya modal untuk biaya replanting. Ketiga, mendukung pertumbuhan kelapa sawit. Keempat, karena padi hanya mengambil 40% dari total pupuk yang diberikan, sehingga sisa pupuk dapat mendukung pertumbuhan kelapa sawit muda. Kelima, mengurangi terjadinya erosi.

B. Petani Pelalawan Riau Mantap Remajakan Kebun

Salah satu Tim Tenaga Ahli Unsoed Dyah Susanti,SP.,MP. menyimpulkan bahwa Replanting tidak lagi menakutkan bagi petani kelapa sawit oleh hadirnya Inpago Unsoed 1 sebagai tanaman sela.

Replanting artinya penanaman kembali. Tanaman kelapa sawit yang sudah tua (usia 30 tahunan) dan tidak produktif lagi dibongkar, diganti dengan bibit kelapa sawit yang masih muda.

Menurut Dyah, Provinsi Riau merupakan provinsi dengan areal perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI (2019) mencatat areal perkebunan kelapa sawit di Riau seluas 2.739.571Ha dan diperkirakan akan meningkat menjadi 2.806.349Ha.

Penduduk Kabupaten Pelalawan lanjut Dyah merupakan penghasil kelapa sawit tertinggi ketiga di Provinsi Riau sekaligus sentra kelapa sawit tertua. Di sana lahan-lahan kelapa sawit telah berumur lanjut, sekitar 25 - 35 tahun, dan sudah tidak mampu lagi berproduksi optimal. 

"Guna membangun keberlanjutan pasokan bahan baku sawit ke perusahaan-perusahaan pengolahan minyak sawit, maka pohon-pohon kelapa sawit yang telah lanjut usia ini perlu diremajakan melalui replanting, " ungkap Dyah.

Replanting menurut Dyah membawa konsekuensi besar terhadap pendapatan petani pemilik lahan plasma maupun perusahaan pemilik lahan inti, di mana pada tiga tahun pertama kelapa sawit muda belum memberikan hasil panen, sehingga bisa dikatakan terjadi zerro cash flow pada lahan replanting selama masa investasi tahun pertama, kedua dan ketiga. 

Berkurangnya pendapatan dari lahan replanting ini menurutnya dapat diatasi dengan intercropping, yaitu menanam tanaman pangan atau hortikultura di sela pohon-pohon kelapa sawit muda. Persentase areal tanam yang masih dapat digunakan untuk budidaya tanaman sela mencapai 60% dari luas area lahan replanting. Kondisi ini menjadi peluang untuk menghasilkan pendapatan jika digunakan untuk memproduksi komoditas yang diperlukan oleh pasar dan bernilai jual tinggi.

Dyah yang juga Dosen Fakultas Pertanian Unsoed menjelaskan bahwa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yakni perguruan tinggi yang memiliki perhatian besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan bersama 

Earthworm Foundation Indonesia (EFI) yang bergerak dalam penberdayaan masyarakat melalui rurality program_ melihat peluang ini sebagai solusi untuk mengatasi keengganan masyarakat melakukan replanting kelapa sawit. 

"Bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang memiliki kepentingan yang sama, salah satunya PT. Surya Bratasena Plantation (PT. SBP), Unsoed, dan EFI bergerak memberikan edukasi dan motivasi kepada masyarakat untuk menggalakkan intercropping dengan Padi Gogo Unsoed dan tanaman-tanaman lain di lahan-lahan replanting untuk menyiasati zerro cash flow pada tiga tahun pertama, " terangnya.

Dyah menambahkan bahwa Unsoed selama ini telah dikenal sebagai perguruan tinggi yang intensif menghasilkan varietas-varietas unggul baru padi yang berdaya hasil dan berkualitas hasil tinggi di lahan marginal. Inpago Unsoed 1 yang dirakit oleh Prof.Dr.Ir.Suwarto,MS. dan Prof.Ir.Totok Agung, DH,M.P.,Ph.D.  merupakan salah satu padi gogo  yang dilepas sebagai varietas unggul nasional dan mendapatkan pengakuan atas hak kekayaan intelektual berupa hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). 

"Unsoed saat ini telah menghasilkan 9 varietas /galur unggul padi. Varietas atau galur tersebut adalah padi gogo aromatik INPAGO UNSOED 1, INPAGO JSPGA 136, INPAGO JSPGA 9, padi toleran salinitas INPARI UNSOED 79 AGRITAN, padi kandungan Fe tinggi INPAGO PARIMAS, padi protein tinggi UNSOED PK 7, dan UNSOED PK 15, serta galur Unsoed-PKD-G82-11 yang telah direkomendasi untuk mendapatkan SK pelepasan varietas dengan usulan nama Inpago Unsoed Protani, " imbuhnya.

Dyah memaparkan bahwa Padi Gogo Aromatik Inpago Unsoed 1 yang telah teruji mampu menaklukkan berbagai jenis lahan marginal dan telah dikembangkan oleh petani di 30 provinsi di Indonesia. Padi jenis ini sangat prospektif dikembangkan di lahan replanting sebagai tanaman sela di antara tanaman kelapa sawit. Penanaman padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1 sebagai tanaman sela akan mampu memberikan pendapatan bagi petani maupun perusahaan selama investasi awal lahan replanting maupun pembukaan lahan baru. 

Pemerintah daerah yang bersinergi dalam pembinaan petani dan perusahaan akan terdukung penyediaan bahan pangannya oleh produksi padi gogo yang ditanam sebagai tanaman sela. Inovasi teknologi dari perguruan tinggi berupa varietas unggul, teknik budidaya, dan produksi benih padi gogo aromatik menjadi penting dalam pengembangan intercropping guna membangun keberlanjutan produktivitas lahan kelapa sawit sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau ini.*(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response