Akhinrya Amerika Potong Dana Bantuan PBB untuk Rakyat Palestina

 

Matamatanews.com, WASHINGTON—Amerika Serikat akhirnya memangkas dana bantuan PBB untuk Palestina, UNRWA (United Nations Relief and Works Agency) setelah dua pekan sebelumnya mengancam pemangkasan dana tersebut.  Dana bantuan yang dipangkas AS sebesar US$ 65 juta atau sekitar Rp 866 miliar.

Seperti diketahui ,bahwa UNRWA  memberikan bantuan dana perawatan kesehatan, bantuan darurat, dan pendidikan kepada warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza dan sejumlah negara Arab lainnya sejak tahun 1950. Dan Amerika Serikat merupakan salah satu negara pendonor terbesar dengan menyumbangkan sukarela ke lembaga ini, yaitu berkisar 30 persen dari pendapatan UNRWA seluruhnya.

Dengan di pangkasnya dana bantuan tersebut, Amerika Serikat berharap seluruh operasional UNRWA tidak berjalan karena  dana masa depan telah habis sehingga terpaksa ditutup.Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengaku prihatin terhadap sikap Amerika Serikat yang memangkas bantuan untuk rakyat Palestina tersebut. Menurut Guterres, UNRWA bukanlah institusi Palestina tapi lembaga PBB yang berperan penting  di kawasan Timur Tengah.

"Ada kebutuhan untuk mengecek ulang pendanaan dan operasional di UNRWA," kata salah seorang pejabat yang keberatan disebutkan namanya seperti dilansir AFP. Seruan itu muncul setelah pergumulan di balik layar antara kalangan garis keras yang ingin mengurangi semua bantuan untuk warga Palestina dan pejabat yang peduli dengan dampak kemanusiaan dan diplomatik.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan US$60 juta dari paket yang direncanakan US$125 juta akan tetap dibayarkan agar UNRWA tetap beroperasi,tapi sisanya akan ditahan. "Langkah ini tidak ditujukan untuk menghukum siapa pun," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert.

"Kami ingin negara-negara lain, khususnya negara-negara lain yang mengkritik Amerika Serikat atas apa yang mereka yakini sebagai posisi kita berhadapan dengan orang-orang Palestina, untuk melangkah maju," ujar Nauert. Kepala UNRWA Pierre Krahenbuhl mengungkapkan kekhawatirannya dan segera meminta anggota PBB lainnya untuk berkontribusi.

Dia mengatakan dana US$60 juta akan membantu sekolah-sekolah dan rumah sakit di Palestina tetap beroperasi untuk saat ini. Namun, dia mencatat uang tersebut secara dramatis lebih rendah daripada US$350 juta yang dibayarkan Washington selama 2017.

"Mengingat hubungan yang panjang, tepercaya, dan bersejarah antara AS dan UNRWA, kontribusi yang berkurang ini mengancam salah satu upaya pembangunan manusia yang paling sukses dan inovatif di Timur Tengah," ujarnya.

Posisi Departemen Luar Negeri AS menimbulkan skeptisisme mengingat sebuah tweet yang dikirim oleh Trump pada 2 Januari, waktu pembayaran bantuan US$125 juta. "Kami membayar orang-orang Palestina ratusan juta dolar setahun dan tidak mendapat penghargaan atau respek," kataTrump ketika itu. (bar/mi/AFP/berbagai sumber)

 

 

sam

No comment

Leave a Response