Agama dan Budaya, Rahasia Hubungan AS-Israel

 

Matamatanews.com, AMERIKA— Rabu (14/9/2016) terjadi kesepakatan bersejarah antara AS dan Israel, setelah berdiskusi cukup alot selama 10 bulan, Amerika dan Israel menandatangani nota kesepahaman paket bantuan militer terbesar dalam hubungan bilateral kedua negara itu. Paket bantuan tersebut senilai 38 miliar dollar AS atau sekitar Rp 500 triliun untuk jangka waktu 10 tahun.

Dari paket bantuan itu, Israel akan menerima 3,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 50,029 triliun) setiap tahun. Dalam nota itu ditegaskan pula bahwa setengah miliar dari 3,8 miliar dollar AS yang diterima Israel setiap tahun khusus diperuntukkan bagi pengembangan sistem rudal anti rudal yang kini dikembangkan Israel.

Bantuan yang diterima Israel saat ini lebih besar dibandingkan kesepakatan damai Israel-Mesir di Camp David tahun 1979, yakni senilai 3,1 miliar dollar AS per tahun. Israel sampai saat ini adalah negara yang paling banyak menerima suplai senjata tercanggih AS. Presiden AS Barack Obama mengatakan, paket bantuan militer baru itu untuk menjamin keamanan Israel di tengah ancaman negara-negara tetangganya yang bergejolak.

Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan, paket bantuan militer ini akan membuat Israel mampu mempertahankan keunggulan militernya dan dapat menangkal ancaman rudal dari negar-negara yang memusuhinya. Secara politis, paket bantuan militer baru dari AS untuk Israel tersebut menunjukkan bahwa- meski sering terjadi beda pendapat-Israel dan AS tetap bertekad mempertahankan hubungan strategis mereka.

AS dan Israel selalu berbeda pendapat tentang strategis, seperti kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok negara 5+1 (AS, Inggris, Tiongkok, Perancis, Rusia plus Jerman) pada Juli 2015, serta pendapat soal Tel Aviv yang terus menerus menghindari dari proses perdamaian dengan Palestina. Tidak terbantahkan terjalinnya hubungan strategis AS-Israel, hubungan keduanya sangat erat tak tergoyahkan dengan apapun.

Tahun 1960-an, PM Uni Soviet Alexei Kosygin sampai bertanya kepada Presiden AS Lyndon B Johnson, mengapa AS begitu membela Israel yang hanya berpenduduk 3 juta jiwa, tetapi menyerang sejumlah negara Arab yang mempunyai penduduk 80 juta jiwa? Presiden Johnson saat itu menjawab: karena Israel dalam posisi benar, pernyataan ini menunjukan bahwa AS dan Israel mempunyai hubungan yang istimewa.

Sejak berdirinya negara Yahudi tahun 1948, mengapa AS begitu bersemangat mendukung Israel sehingga terlihat tidak masuk akal? Banyak faktor yang menyebabkan AS sangat mendukung Israel secara konsisten.

Selain faktor geopolitik dan ekonomi, faktor yang sangat krusial yang medasari hubungan strategis AS-Israel adalah masalah agama dan budaya. Faktor tersebut yang menjadi barometer kebijakan geopolitik AS di Timur Tengah, terkait dengan isu Palestina. Hal lainnya yang membuat AS-Israel semakin dekat yakni ajaran Martin Luther (1483-1546), tokoh gerakan pembaharuan Kristen asal Jerman tersebut yang menjadi inspirasi utama kehidupan di AS, khususnya Yahudi-Kristen Protestan.

Sejarawan Inggris keturunan Lebanon, Albert Hourani, dalam bukunya, Sharq Al Awsat Al Hadist, menguraikan peran penting ajaran kitab suci Yahudi, Taurat atau Perjanjian Lama, dalam membangun pola pikir dan budaya kaum migran Eropa pertama ke AS. Kaum migran Eropa setiba di AS segera mengadopsi doktrin dalam Perjanjian Lama bahwa kaum Yahudi harus kembali ke Palestina. Hal itu terjadi tiga abad sebelum lahirnya gerakan zionis yang digalang Theodor Herzl.

Maka, proyek zionis sesungguhnya bisa disebut proyek AS yang terinspirasi dari kitab Perjanjian Lama dan diyakini oleh sebagian besar rakyat AS, jauh sebelum lahirnya gerakan zionis secara resmi. Semua Presiden AS sejak berdirinya negara AS pada 1776 mempercayai dan mengadopsi kebijakan politik zionis. Kebetulan semua Presiden AS menganut Kristen Protestan, kecuali Presiden John F Kennedy yang menganut Katolik.

Hal ini berbeda dengan Katolik yang sangat berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan Yahudi. Vatikan saja baru bersedia membuka hubungan diplomatik dengan Israel setelah tercapai kesepakatan Oslo antara Israel dan Palestina tahun 1993. Dalam konteks itu, betapa pengaruh ajaran Yahudi sangat besar terhadap para pendiri dan Presiden AS.

Presiden AS kedua, John Adams (1797-1801), dikenal salah satu Presiden AS yang sangat mengagumi Yahudi. Ia pernah mengirim surat kepada penerusnya, Presiden Thomas Jefferson (1801-1809), yang isi suratnya berbunyi, "Saya sangat meyakini bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling maju peradabannya dibandingkan dengan bangsa lain."

Presiden Woodrow Wilson (1913-1921) juga dikenal sebagai Presiden AS yang sangat mendukung perjuangan bangsa Yahudi. Ia berbuat segala hal untuk mendukung dan menyukseskan Perjanjian Balfour tahun 1917 yang membuka jalan bagi imigran Yahudi ke Palestina.

Presiden Wilson pada 3 Maret 1919 mengatakan, pemerintah dan rakyat AS mendukung peletakan batu asas bagi berdirinya Uni Federal Yahudi di Palestina. PM Israel Benjamin Netanyahu, ketika menjadi Dubes Israel untuk PBB pada tahun 1985, pernah menghadiri acara doa rakyat AS untuk kejayaan Israel. Netanyahu memuji hubungan historis Yahudi-Kristen Protestan yang membantu terwujudnya impian gerakan zionis, yaitu berdirinya negara Israel.

Setelah berdirinya negara Israel pada tahun 1948, PM Israel pertama yang juga pendirinya, David Ben Gurion, menerapkan nilai-nilai budaya Barat dalam politik (demokrasi), hukum (hak asasi manusia), ekonomi, dan sosial dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di Israel. Hal itu membantu mengantar negara-negara Barat, terutama AS, yang menganggap bahwa Israel adalah bagian dari dunia Barat. Karena itu, memandang hubungan strategis AS-Israel tidak bisa melihat semata faktor kepentingan geopolitik atau lobi Yahudi, tetapi yang lebih mendasar adalah ranah agama dan budaya. [Did/ Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response