Pagelaran Wayang Kulit Ki Manteb Hadirkan Menko Polhukam Wiranto

 

Matamatanews.com, SIDOARJO – Sabtu (24/9/2016) Yayasan Kalimasada Nusantara (YKN) menyelenggarakan nonton bareng wayang kulit bersama tokoh-tokoh nasional  di parkir timur Gor Sidoarjo, dihadiri Wiranto, pak dekarwo (Gubenur Jawa Timur) dan Saifullah Bupati Sidoarjo beserta perangkatnya, sedangkan Megawati Soekarnoputri, Amin Rais, Akbar Tanjung, Presiden Jokowi berhalangan hadir.

Wayang kulit yang dipimpin oleh Ki Manteb Sudarsono ini mengangkat kisah Semar Mbabar Jati diri,  mulai pukul 20.00 wib dibuka dengan tarian panen raya dari sanggar sego bagul kabupaten Lamongan, begitu meriah dan hikmat. Para undangan dan masyarakat Sidoarjo antusias memadati kursi yang disediakan panitia sebanyak 3000 orang.

“Saya bersyukur karena Jawa Timur bisa melaksanakan silaturahmi nasional, untuk membicarakan masa depan bangsa dengan menggelar satu pertunjukkan wayang kulit yang merupakan bagian kebudayaan bangsa indonesia. Dimana Bung Karno pernah berpesan, kita harus berani dalam sikap politik, berdikari dalam ekonomi, berkepribadian dalam kebudayaan” kata Menkopolhukam, Wiranto.

“Dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri, kita akan bahas kualitas semar seperti apa? Semar merupakan pemimpin abdi dalem atau punakawan, tetapi walaupun abdi dalem dia mempunyai ciri sederhana dan mengabdi sepenuhnya tanpa pamrih, Semar berpengetahuan luas, mata batinnya tajam dan dalam, kalau diruntut dia sebenarnya begawan. Tetapi mau untuk menjadi pelayan karena sudah mempunyai satu keyakinan bahwa, hatinya luas untuk menerima apapun dengan satu tujuan tertentu, ada satu pesan luar biasa dimana pada saat kritis maka Semar bukan sembarang abdi dalem. Tetapi betul-betul dewa dengan berbagai kelebihan dan bisa memberi “wejangan” dalam format budaya kita, ada yang bisa kita pelajari dari warisan leluhur, warisan itu dalam bentuk kemerdekaan.” kata Wiranto menambahkan.

Sedangkan Sigit Haryo Wibisono (Ketua YKN) mengawali sambutan, “Ucapan terimakasih kepada Menkopolhukam, Gubenur Jatim, Bupati Sidoarjo dan menyampaikan situasi masyarakat saat ini yang diutamakan adalah efisiensi bukan keadilan. Efisiensi musuh laten keadilan, yang mengatur keadilan harusnya pemerintah, jadi pemerintah nurut keadilan bukan nurut efisiensi. Seperti Jawa Timur, dimana Jawa Timur menolak impor beras karena Jatim gudang beras, jadi kami sepakat melindungi masyarakat, kami menghaturkan ke pak Menkopolhukam agar bisa menciptakan hukum yang mempunyai rasa keadilan dan kepastian.” ujarnya. (Nizam/Nailul)

 

sam

No comment

Leave a Response