Kisah Inspriratif Dari Hoegeng Imam Santoso

Matamatanews.com,JAKARTA—Hoegeng Imam Santoso lahir di Pekalongan 14 Oktober 1921, sejak kecil iya bercita-cita menjadi seorang polisi. Sampai akhirnya cita-cita itu terwujud ketika Hoegeng lulus dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 1952. Hoegeng merupakan salah satu polisi yang jujur di Negeri ini, sifat itu ia dapatkan dari ayahnya yang bernama Sukario Hatmodjo yang pernah menjabat sebagai kepala Kejaksaan.

Mantan presiden RI Abdurrahman Wahid pernah mengatakan bahwa di indonesia hanya ada dua polisi yang tidak bisa disuap, pertama polisi tidur dan yang kedua Hoegeng. Namun candaan itu nampaknya bener adanya dan sosok Hoegeng layak di jadikan panutan oleh para polisi di negeri ini.

Ada beberapa kisah yang patut di contoh dari Hoegeng Imam Santoso Kepala Polri ke-5 yang menjabat tahun 1968-1971.

  1. Mengatur lalu lintas di perempatan

Hoegeng berpendapat bahwa tugas polisi adalah melayani masyarakat, baik dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi sekalipun. Karena prinsip itu seorang Hoegeng tidak malu untuk turun langsung kejalan mengatur lalulintas yang kebetulan sedang tidak ada petugas Polantasnya.

  1. Tolak rayuan pengusaha cantik

Kapolri Heogeng pernah menangani kasus penyelundupan yang melibatkan seorang pengusaha wanita cantik keturunan Makassar-Tionghoa. Wanita ini meminta Hoegeng untuk menutup kasusnya dengan cara mengirimkan barang-barang mewah ke rumah Hoegeng, namun semua itu di tolak mentah-mentah olehnya. Akan tetapi ia merasa heran mengapa koleganya di kepolisian dan kejaksaan meminta Hoegeng untuk menutup saja kasus ini. Belakangan ia mengetahui bahwa wanita ini akan melakukan segala cara untuk memuluskan aksi penyelundupannya.

  1. Memberantas semua tindak kejahatan yang di bekingi

Pada tahun 1956, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor polisi Sumut. Dua bulan setelah itu ia kaget bukan kepalang melihat rumah dinasnya sudah penuh dengan barang-barang mewah seperti kulkas, piano, tape dan juga sofa mahal. Kemudian ia mengetahui bahwa barang tersebut kiriman bandar judi yang pada saat itu mengirim utusannya untuk menemuinya di Pelabuhan Belawan, tetapi Hoegeng meminta agar barang-barang pemberian itu di kembalikan. Untuk seorang Hoegeng lebih baik tidak menerima suap dari pada ia melanggar sumpah jabatan dan sumpah sebagai Polisi Republik Indonesia.

  1. Hoegeng dan pemerkosa Sum Kuning

Tanggal 21 September 1970, Sumarijem yang seorang penjual telur di culik dan di perkosa secara bergantian. Kemudian Sum melapor ke pihak polisi, disana Sum malah di jadikan tersangka karena dituduh membuat laporan palsu. Kasus Sum ini di sidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta, namun sidang yang ganjil ini tertutup untuk wartawan. Kasus ini pun tidak luput dari pantauan Hoegeng, ia merasakan keganjilan dari kasus ini. Akhirnya Hoegeng membentuk tim khusus untuk memecahkan kasus ini, tim itu diberi nama “Tim Pemeriksa Sum Kuning” yang di dirikan Januari 1971. Kasus ini bergulir bagaikan bola salju karena melibatkan anak-anak pejabat pada masa itu. Sampai akhirnya Presiden Soeharto ikut turun tangan dan memerintahkan Tim Pemeriksa Pusat Kopkamtib untuk mengakhiri kasus Sum Kuning ini. Hoegeng sadar ada kekuatan besar yang membuat kasus ini menjadi bias, kerena setelah itu pada tanggal 2 Oktober 1971 Hoegeng di pensiunkan sebagai Kapolri.

  1. Selalu berpesan kepada polisi untuk tidak mudah dibeli

Mantan Kapolri Jendral Polisi Widodo Budidarmo ingat betul pesan pak Hoegeng, bahwa iya jangan sampai lengah dalam memberantas perjudian dan penyelundupan. Karena mereka sangat berbahaya bagi para penegak hukum, mereka suka menyuap para penegak hukum demi memuluskan bisnisnya. “kata-kata mutiara yang masih saya ingat dari pak Hoegeng adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik.” Tutur pak Widodo. ( Atep/ imigrasi/berbagai sumber )

No comment

Leave a Response