Ketika Hukum Dipertaruhkan...

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Akhir tahun 2016 pada akhirnya membuat kita berkacadiri.Keributan,kekerasan,kebrutalan dan kerususuhan tanda paling nyata bahwa masyarakat telah kehilangan kesabaran dan akal sehatnya. Kini yang banyak dipamerkan ialah emosi dan senjata. Yang diagungkan ialah kehendak dan ego menang sendiri bahkan terkadang dengan cara membunuh!

Kerusuhan di Bima,Nusa Tenggara Timur,dan Lampung, pembunuhan tiga polisi di Papua beberapa waktu lalu serta  penembakan  terhadap empat polisi di  Poso adalah potret dari keterpurukan masyarakat dan bangsa ini. Kini bangsa ini seakan menjadi bangsa pemberang dan anarkis. Papua yang damai dan dihuni para manusia tanpa tekhnologi perang canggih, rupanya bisa mencelakai nyawa aparat keamanan. Buktinya di Papua, polisi yang terlatih dan dilengkapi senjata itu ternyata dijadikan target bulan-bulanan pembunuhan.Begitupun di Poso.

Papua memang  daerah damai, tapi bukan berarti penegakan hukum harus dihentikan. Meski situasi Papua dilematis, hukum harus tetap ditegakkan dan pelaku pembunuhan atas nyawa aparat kepolisian ,TNI atau pun warga sipil harus diusut tuntas. Memang setiap kejadian,sekecil apa pun selalu menyimpan misterinya sendiri yang belum tentu akan pernah bisa kita kuakkan. Apa yang terjadi di Poso dan  Papua pun mungkin sekali tidak benar-benar kita ketahui apa dan bagaimana persis serta penyebabnya.

Memang tidak ada perkara atau masalah yang tidak mengundang keributan. Tetapi kekerasan,kebrutalan dan kerusuhan, itu tanda paling nyata masyarakat telah kehilangan kesabaran dan akal sehatnya. Terlebih membiarkan dan menganggap lumrah nyawa aparat keamanan ,terutama polisi menjadi bulan-bulanan dan siraman peluru dari orang-orang tak dikenal di Papua. Kalau boleh berterus terang, dalam banyak hal,kita semua bangsa Indonesia sedang dikepung oleh terlalu banyaknya kejahatan, baik dalam sentuhan sehari-hari di lingkungan kecil pergaulan kita,maupun dalam skala besar kenegaraan.

Kini kita seakan sudah tidak kaget lagi oleh derasnya kriminalitas, hancurnya logika dalam politik dan birokrasi atau mentradisinya korupsi kolektif dan jamaah kolusi. Itu semua membengkak dan kian menumpuk dari hari ke hari,, sehingga kita tenggelam di dalamnya. Dan kini tampaknya kita tenggelam dalam habitat kejahatan dalam jangka waktu yang melampaui ambang kapasitas alamiah manusia dan masyarakat, membuat kita semakin tidak mampu memelihara objektifitas terhadap kadar kejahatan itu.

Sesungguhnya wajah masa depan negeri ini untuk sebagian sungguh ditentukan oleh kemampuan negara mengatasi persoalan besar yang kita hadapi hari ini. Kegagalan mengatasi persoalan hari ini akan membawa persoalan yang jauh lebih besar lagi di masa mendatang. Kini emosi publik semakin tercabik dan diaduk oleh sikap pemerintah dan politisi di DPR. Kini publik seolah dipaksakan dengan berbagai kegaduhan yang menggelikan, kekanak-kanakkan dan berlebihan seakan para petinggi hukum telah  KO oleh akal bulus para garong uang negara.

Kini kita mengakui dijajah mafia korupsi, preman dan politisi busuk, tetapi pikiran dan konstruksi penegakkan hukum masih terpaku pada konstruksi prosedural.    Tidak terbilang sudah kita mempersoalkan buruknya penegakkan hukum dinegeri ini, namun rupanya kemampuan para Mafioso,preman,politisi busuk, serta koruptor menyumbat mulut aparatur yang rakus dan mati rasa dengan uang mengakibatkan krisis moralitas semakin berbahaya. Kita menyadari memang tidak mudah pemerintah menyelesaikan konflik demi konflik atau kasus demi kasus yang ada. Karena memang tidak mudah menemukan formula pendekatan solusinya, akan tetapi komitmen aparat negara untuk membongkar aksi kekerasan,kerusuhan,konflik, korupsi atau pun mafia anggaran harus diapresiasi  dengan  arif dan bijaksana, bukan sebaliknya dengan prasangka atau pun makian panjang. (SM Akbar)

 

 

No comment

Leave a Response