Gabungan Serikat Buruh Dan Petani Padati Istana Presiden Peringati May Day

 

Matamatanews.com, JAKARTA – Ribuan buruh yang tergabung dalam serikat buruh peringati May Day di depan istana presiden, meski dihadang oleh aparat dan barakuda buruh terus berorasi menyampaikan aspirasi.

Selain buruh, para petani pun ikut turun kejalan menyampaikan aspirasinya dengan membuat replika makam dan menguburkan diri. Mereka ikut turun ke jalan karena beranggapan May Day kali ini bukan lagi hanya milik buruh, tapi milik semua kelompok rakyat baik kaum miskin, mahasiswa serta massa rakyat yang terorganisir. Seluruhnya berintegrasi diri pada atmosfir perlawanan May Day.

Tuntutan yang disuarakan para buruh meliputi, cabut PP 78/2015; naikan upah seratus persen; hapus sistem kerja kontrak atau Out Sourcing harian dan magang; berlalukan cuti haid tanpa syarat; berlalukan cuti hamil dan melahirkan 12 bulan; cabut undang-undang No.39/2024 tentang penempatam dan perlindungan TKI; bentuk desk khusus pidana perburuhan di kepolisian; selamatkan BMI dari ancaman hukuman mati; cabut objek vital nasional di seluruh kawasan industri di Indonesia; revisi undang-undang perburuhan; penjarakan pelaku pelecehan sekual terhadap buruh perempuan; bangun rumah murah dan layak untuk rakyat; bangun posko untuk menagih janji-janji kepala daerah di seluruh Indonesia; hapus diskriminasi seksual dan orientasi gender di tempat kerja; beri kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas; stop intervensi kepolisian dan TNI dalam urusan perburuhan; stop kriminalisasi terhadap rakyat; sediakan tanah, modal serta teknologi murah untuk kaum tani; lawan politisasi issu SARA; sediakan pendidikan gratis ilmiah dan demokrasi; sahkan undang-undang penghapusan kekerasan seksual; hapus peraturan daerah dan undang-undang anti demokrasi; stop penggusuran paksa; stop perampasan ruang hidup rakyat; stop pemberangusan kebebasan berekpresi dan berpendapat; jamin kebebasan jurnalis di Papua; tarik pasukan organik dan non organik dari Papua; buka akses seluas-luasnya bagi rakyat Papua; sediakan jaminan sosial dan perlindungan Hak Asasi Manusia bagi pekerja perikanan yang berada di atas kapal.

Seperti dilaporkan wartawan Matamatanews.com di lokasi, massa buruh yang membakar sejumlah karangan bunga di depan Balai kota ialah wujud kekecewaan terhadap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Menurut mereka karangan bunga tersebut dinilai pemborosan. (Supardi)  

No comment

Leave a Response