Dosen Unsoed Ciptakan Lagu Pesan Damai Pilpres 2019

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO—Banyak harapan dan rasa optimistisme masyarakat, agar penyelenggaraan Pemilu serentak berjalan  damai. Koordinator Sistem Informasi Unsoed Alief Einstein mengungkapkan bahwa  Dosen Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah Ir. Kusuma Widayaka, MS. berinisiatif membuat lagu bertema "Damai Indonesiaku".  

Dalam lagu ini Kusuma Widayaka ingin menyampaikan pesan supaya masyarakat tetap menjaga perdamaian meski memiliki perbedaan untuk memilih pemimpinnya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Alief Einstein berharap semoga “nyanyian” Kusuma tersebut dapat mendatangkan pesan damai dan memberi rasa sejuk di tengah situasi pemilu 2019 belakangan ini.

Kusuma mengaku ketika membuat lagu tidak pernah terpikir akan bagaimana kedepannya nanti. Mungkin kebetulan lagu yang dia buat pas untuk suasana "pemilu" sekarang, misalnya dalam hal lirik atau mungkin memang terhubung dengan kehidupan banyak orang yang menginginkan kedamaian.

Kusuma berharap, pesan dalam lagu tersebut bisa disampaikan dengan baik. Menurut Kusuma, lagu damai dibuat bukan untuk tujuan komersil. Karena ia ingin semua orang bisa mengakses lagu ini. Alief Einstein mengungkapkan lagu Kusuma membawa pesan mendalam berupa  perdamaian dan toleransi. "Walau berbeda semuanya tapi kita berusaha hidup damai," ujar Einstein.  Berikut lirik lagu Damai Indonesiaku :

 Langgam Damai Indonesiaku :

 Indah pesona alammu

Gemah ripah loh jinawi

Ribuan pulau nan subur

Jamrut katulistiwa sebutannya

Aneka macam suku bangsa

Berbeda beda budaya

Dari Sabang sampai Merauke

Bhineka Tunggal Ika semboyannya

Ramah tamah pergaulannya

Gotong royong dan toleran

Tenang tenteram bermasyarakat

Damai Indonesiaku

Dalam perbincangannya dengan Alief Einstein, Kusuma Widayaka mengungkapkan, lagu Damai Indonesiaku dibuat di Purwokerto .

"Sudah sejak lama sering kita menyaksikan adanya tawuran antar desa, antar kampung, antar kampus, antar supporter pada beberapa kesempatan. Selain itu, gerakan reformasi yang terjadi tahun 1997-1998, menorehkan sejarah kelam Indonesia, karena pada masa jatuhnya pemerintahan Orde Baru di tahun itu, banyak kejadian yang membuat hati miris. Pembakaran ruko, rumah,penjarahan, dan berbagai peristiwa keji lainnya. Yang pasti, telah mencoreng wajah Indonesia, sebagai bangsa yang ramah.

Syukur Alhamdullilah, kejadian itu cepat berlalu dan bangsa Indonesia, bahu membahu satu sama lain memperbaiki keadaan dan akhirnya suasana kondusif dan situasi aman terkendali. Banyak ajakan dari berbagai pihak untuk menciptakan Indonesia damai, hampir disetiap sudut kota, terpampang tulisan ” damai itu indah ”. Keprihatinan dan agar kejadian serupa tak terulang kembali, sebuah lagu berirama langgam, sebagai ciri khas musik Indonesia diciptakan, dengan lirik yang mengajak masyarakat untuk menggali kembali budaya gotong royong, tolong menolong dan hidup rukun.

Semboyan Bhineka Tunggal ika, yang menjadi ciri khas bangsa, harus dilestarikan, karena hanya dengan kedamaian, kehidupan berbangsa dan bernegara terasa indah. Damai Indonesiaku, lagu yang mengajak orang untuk tidak saling mencaci, menumbuhkan semangat setia kawan, keragaman budaya, letak geograis yang jauh satu sama lainnya, menjadi tali pengikat yang telah diwariskan para pendiri bangsa. Dan untuk lebih mendekatkan diri satu sama lainnya, lagu Damai Indonesiaku, dimaksudkan untuk menambah rasa cinta tanah air, cinta saudara dan cinta kedamaian. Ya, damai itu indah dan kita bisa melihat sesuatu indah, bila hati dalam suasana tenang dan damai, " jelasnya.

 "Sudah 26 judul lagu yang saya ciptakan. Harapan saya, siapa pun yang mendengarkan lagu berirama langgam akan menjadi tenang dan damai hatinya, cooling down. Bagaimana mau marah kalau telinga kita mendengarkan alunan lagu langgam. Hal ini cukup beralasan. Dalam sebuah buku karangan Masaru Emoto seorang peneliti air dari Jepang dalam bukunya The True Power of Water, disebutkan bahwa dari hasil penelitiannya ternyata air bisa melihat, mendengar, membaca dan merasakan. Jadi kalau air diberi tulisan kasar atau amarah, maka struktur air juga akan berubah, dan kata yang membuat struktur air berubah menjadi baik adalah kata CINTA dan TERIMA KASIH. Jika air diperlihatkan film horor atau sadis maka struktur air pun akan berubah, sebaliknya film baik,  membuat struktur air menjadi baik pula. Demikian juga bila air didengarkan lagu metal, rock, underground, air akan berubah strukturnya tidak baik. Sebaliknya jika air diperdengarkan dengan lagu yang lembut maka struktur air akan berubah menjadi baik. Nah, tubuh manusia 70 persen terdiri dari air, oleh karena itu struktur dalam tubuh kita akan berubah sesuai dengan apa yang kita lihat, dengar, baca dan rasakan. Itu pula alasan saya mengapa lagu Damai Indonesiaku berirama langgam. Dengan mendengar alunan langgam akan membuat hati kita damai, tenang, tentram, menurunkan tensi atau nafsu amarah. Jadi dalam suasana pra pemilu dan pasca pemilu yang menguras energi kita, mengaduk-aduk emosi, perlu segera kita turunkan rasa amarah, kecewa, tidak puas, putus asa, tidak percaya, kesombongan, mau menangnya sendiri dan lain-lain sebelum menjadi sumbu pendek yang mudah sekali meledak, " katanya.

Dalam kaitanya menjaga proses Pemilu 2019 agar berjalan secara jujur, adil, dan damai Kusuma mengatakan, dengan pikiran yang tenang maka kita tidak akan mengedepankan emosi dalam berpikir atau bertindak. Dengan hati yang tenang dan damai, kita bisa berpikir jernih, rasional, logika akan berjalan, mau mendengarkan, mau bersabar, mau diajak “rembugan”, mau membuka diri, mau duduk bersama menyelesaikan masalah secara adil, mau menyampaikan hal dengan jujur, tidak mau menangnya sendiri, arogan, kasar, frontal, brutal dan hal-hal ini tidak kita harapkan bersama.

" Semoga Langgam Damai Indonesiku yang saya buat dapat terdengar dimana saja, kapan saja dan sesering mungkin dilantunkan di berbagai kesempatan, Insya Allah berkontribusi terwujudnya kedamaian, khususnya Damai Indonesiaku. Di jaman “now” ini, sangat terbantukan adanya “gadget” dan media sosial untuk menyampaikan maksud ini. Tidak kurang dari 80% masyarakat kita menggunakan smartphone, sehingga sangat mudah langgam Damai Indoesiaku di-blow up sampai di telinga kita. Masyarakat kita mudah berbagi dan rata-rata mereka mempunyai grup atau komunitas di media sosial yang jumlahnya komunitasnya cukup banyak, " jelasnya.

 Kusuma mengisahkan sejak SMA dan waktu kuliah dia sudah sering menulis lagu, cuma waktu itu tidak terpikir untuk direkam, mungkin alasan dana. " Semua lagu saya tidak ada yang sifatnya komersiil, jadi untuk latihan, memberi insentif yang membantu saya dan merekam lagu, semua biaya dari kantong sendiri. Tidak ada sponsor. Jadi setelah saya punya rejeki, satu demi satu lagu yang saya buat, saya rekam sesuai dengan kebutuhan saat itu, " ungkapnya.

"Saya pernah membaca sebuah buku, dalam buku itu menuliskan pertanyaan, kira-kira pertanyaannya seperti ini. Kontribusi apa yang sudah kamu berikan pada dunia ini? Membaca pertanyaan itu, saya seperti ditampar. Apa ya kontribusi saya di dunia ini? Saya merenung, dan akhirnya saya memberanikan diri, lagu-lagu yang pernah saya tulis, satu demi satu saya rekam, menyesuaikan keadaan. Bahkan ada paling tidak 4 lagu yang saya buat sudah menjadi lagu dalam materi pelatihan untuk mahasiswa baru.

Tidak ada darah/keturunan mencptakan lagu. Ibu dan beberapa saudara saya suka menyanyi saja. Sebenarnya ini hanya masalah kepekaan saja menghadapi atau melihat situasi sekeliling saya. Sehingga lagu-lagu saya semua lagu tematik, tergantung pada saat itu terjadi atau ada kejadian apa yang mengusik hati saya. Contohnya, kalau kita melihat prestasi sepak bola di tanah air, coba bayangkan dengan penduduk tidak kurang dari 260 juta dan sudah sekian tahun belum juga berprestasi yang luar biasa, ini menjadi keprihatinan saya. Namun daripada saya hanya berkomentar dan mencaci maki maka saya putuskan saya berkontribusi sebisa saya, maka terciptalah lagu Rasanya Senang Timnas menang. 

Dulu waktu saya kuliah S1 di Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, saya pernah dengan teman-teman main band dan juga ikut vokal grup. Ketika awal-awal saya bekerja pernah membuat grup band dosen. Di Fakultas Peternakan Unsoed, saya pernah menjadi pembina UKM Musik Mahasiswa Peternakan yang dikenal dengan GAMET, Galeri Musik Peternakan, " imbuhnya. *(hen/berbagai sumber)

 

sam

No comment

Leave a Response