Akibat Garam Import, Petani Garam Lokal Menderita

 

Matamatanews.com, CIREBON – Kebijakan import garam, secara langsung memberikan dampak pada petani garam. Masuknya garam import ke Indonesia membuat para produsen enggan membeli garam rakyat. Saat ini, garam petani di Cirebon tidak laku dijual meski harganya sangat murah.

Seorang petani garam asal Cirebon, Abdul mengatakan, “Beberapa pekan kemarin kami menikmati harga tinggi. Tapi kenapa saat panen raya malah muncul garam impor,” ujarnya.

Ia menyampaikan, saat ini harga garam di tingkat petani hanya Rp 650 per kilogram. Dengan harga yang murah saja masih sulit untuk dijual, karena para pedagang besar atau produsen enggan membeli garam rakyat ini.

Keadaan ini diduga akibat sikap pemerintah yang tidak tepat dalam waktu import garam, dimana pada saat petani panen raya, pemerintah justru mengeluarkan kebijakan impor dan ketika kesulitan, tidak ada kebijakan tersebut.
“Garam import sangat berimbas pada kami, karena pedagang besar enggak mau membeli garam kami, justru memilih garam impor,” lanjut Abdul.

Sementara, dari pengakuan tengkulak garam bernama Rahman menyatakan sulit untuk menyerap garam para petani. Menurutnya para pedagang besar yang biasa membeli, kini tidak lagi mau membeli garam petani.

“Biasanya kita salurkan ke berbagai industri, tapi sekarang hanya satu saja yang mau membeli, lainnya tidak ada respon ketika ditawari garam rakyat,” ungkap Rahman.

Rahman menerangkan saat ini harga garam terus merosot, dimana sebelum adanya garam import, harga garam rakyat sempat menyentuh angka Rp 4.000 per kilogram, namun dengan kondisi saat ini, harga Rp 1.000 pun sulit dikeluarkan.

Harga ditingkat petani untuk garam nomor dua Rp 650 per kilogram, sedangkan unutk nomor satunya Rp 900. Pihaknya menjual garam tersebut dengan harga Rp 1.000 sampai Rp 1.300 per kilogram.

“Kami menjual lebih tinggi dari petani, karena ongkos produksi juga lumayan besar, untuk itu pasti ada selisihnya,” tutup Rahman. [Did/Rpk/Berbagai Sumber]

No comment

Leave a Response